Antara Pornografi, Tujuan Negara, dan Pancasila

28 Mar 2011

Di status twitternya, selebtwit itu menulis bahwa di Jepang saja industri pornografi semarak dan perekonomian mereka sangat baik (statusnya diupdate sebelum gempa Jepang terjadi). Lalu selebtwit menyalahkan pemerintah yang memblokir situs pornografi yang dianggapnya kontraproduktif dan membodohi masyarakat.

Pornografi dan Perekonomian

Adakah hubungannya industri pornografi dengan perekonomian? Di Jepang sendiri, rupanya industri pornografi tidak terasa manfaatnya. Perekonomian Jepang lebih banyak disokong oleh sektor jasa. Industri utama sektor jasa di Jepang berupa bank, asuransi, realestat, bisnis eceran, transportasi, dan telekomunikasi. Industri ekspor utama Jepang adalah otomotif, elektronik konsumen (lihat industri elektronik konsumen Jepang), komputer, semikonduktor, besi, dan baja. Industri penting lain dalam ekonomi Jepang adalah petrokimia, farmasi, bioindustri, galangan kapal, dirgantara, tekstil, dan makanan yang diproses. Industri manufaktur Jepang banyak bergantung pada impor bahan mentah dan bahan bakar minyak.

Jadi, industri pornografi sangat tidak signifikan untuk perkembangan perekonomian Jepang. Coba juga buktikan, apakah Jepang akan mengandalkan industri pornografi untuk membangkitkan perekonomiannya yang runtuh setelah gempa?

Lalu apabila Indonesia bersikap permisif terhadap pornografi, otomatis perekomian Indonesia akan bangkit? Bisa saja kalau negara ini benar-benar fokus pada industri itu. Potensi 250 juta rakyat Indonesia sangat besar untuk dieksplotiasi dalam industri pornografi. Dengan catatan, apabila warga negara ini sudah kehilangan moralitasnya.

Tujuan Negara dan Rambu-Rambunya

Tujuan negara ini tertuang dalam pembukaan UUD 45: “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…” Secara tersurat ada tujuan untuk mensejahterakan rakyat Indonesia. Maka segala daya dan upaya harus dikerahkan untuk tujuan itu. Dan negara sangat bertanggung-jawab.

Tapi dalam mencapai tujuan itu, pembukaan UUD 45 pun memberikan koridor yang tidak boleh pula kita langgar: “…dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Kita sudah sangat hafal rambu-rambu itu dalam Pancasila.

Dua poin di antaranya ialah Ketuhanan yang Maha Esa, dan Kemanusiaan yang adil dan beradab. Berada di mana industri pornografi? Di dalam rambu-rambu yang telah ditegaskan oleh Pembukaan UUD 45 kah? Atau berada di luar?

Saya rasa logika masyarakat Indonesia secara umum akan tegas menyatakan bahwa industri pornografi bertentangan dengan amanat Pembukan UUD 45. Ia bertabrakan dengan sila Ketuahanan Yang Maha Esa, dan melanggar sila ke-2 karena pornografi adalah perilaku yagn tidak beradab.

Rakyat Indonesia masih bisa memilih jalan yang benar untuk membangkitkan perekonomiannya. Kalau bangsa ini patuh pada nasehat Niccolo Machiavelli, untuk menghalalkan segala cara dalam meraih tujuan, maka bangsa ini tidak akan segan melegalkan pelacuran di mana-mana, melegalkan judi, dan tentunya industri pornografi. Kalau masih kurang, negara ini bisa seperti Belanda yang melegalkan ganja. Bisa juga memungut pajak dari tukang sihir seperti di Rumania. Atau menjadi negara pertama yang melegalkan pencurian dan perampokan - dengan pemberian beban pajak bagi hasil curian untuk pemasukan negara. Atau korupsi tidak perlu dilarang, tapi dilegalkan dan diberi beban pajak. Bisa saja seperti itu, yang penting masyarakat sejahtera.

Syukurnya para founding fathers memberi rambu-rambu yang tegas dalam mewujudkan tujuan negara ini. Walau pun banyak dari mereka merupakan lulusan Belanda, tapi moralitas mereka masih memiliki cita rasa dalam negeri.

Ini yang tidak dipunyai oleh beberapa gelintir pemuda Indonesia. Termasuk selebtwit yang adalah seorang sutradara itu. Melihat Jepang dengan kemegahannya saja ia sudah kehilangan moralitas dengan cita rasa Nusantara. Jati dirinya sebagai anak bangsa sangat keropos. Dan pemuda-pemuda yang lain, mereka mudah menjadi lebih barat dari orang barat begitu mereka bisa sedikit mengintip dunia luar sana melalui televisi dan layar bioskop.

Referensi:

http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_Jepang


TAGS


-

Author

Follow Me