Kecanggungan Orang Tua Mengenai Pendidikan Seks

14 Dec 2010

“Parah!!” Rata-rata seperti itu komentar orang yang membaca berita tentang seorang ibu yang mengajarkan anaknya seks bebas. Keterkejutan itu sesungguhnya berita gembira. Mengindikasikan nilai-nilai luhur pancasila masih dipegang erat oleh masyarakat Indonesia. Keterkejutan itu mencerminkan pernyataan mereka: “Sangat tidak pantas seks bebas diajarkan di negara yang berkeTuhanan, yang salah satu sumber hukumnya adalah hukum agama.”

Ibu itu adalah Nia Dinata - anak dari Dicky Iskandar Dinata (1), ibu yang berkata kepada anaknya (seperti dikutip oleh okezone) “Silakan kamu melakukan itu dengan pacarmu tapi dengan syarat sama-sama mau.” (2) Mempersilakan anaknya untuk melakukan seks bebas. Dengan penuh kebanggaan, ibu yang mengajarkan anaknya seks bebas itu memamerkan metode pendidikan seks kepada anaknya di sebuah media nasional.

Dari sini, kita bisa mendapat gambaran bagaimana sesungguhnya konsep sex education yang diinginkan oleh pihak liberal. Belakangan ini wacana sex education menggempur masyarakat. Setiap suara penolakan yang menggaung selalu disambut dengan label “kolot”, “konservatif”, atau stigma lainnya. Padahal, bisa saja suara penolakan itu dilatar-belakangi kekhawatiran kalau pendidikan seks itu menjadi pintu masuk kemorosotan akhlak.

Kecanggungan Orang Tua

Selalu, orang tua yang ditanya tentang seks oleh anaknya, akan merasa canggung. Apalagi kalau si anak sudah memasuki usia remaja. Banyak faktor yang melahirkan kekhawatiran orang tua, seperti apakah penjelasan yang diberikan bisa dimengerti oleh anak, sampai kekhawatiran akan watak remaja yang suka mencoba-coba.

Tapi, alih-alih memberi penjelasan yang membuat anak paham dan puas, orang tua punya kecenderungan ingin lepas dari pertanyaan itu dengan memberi jawaban sekenanya. Kata-kata pamungkasnya adalah: “Nanti kalau kamu sudah besar, kamu akan mengerti.” Tentu saja jawaban itu akan mengembang-biakkan rasa penasaran di hati anak. Kemungkinan terburuknya adalah, si anak mencari jawaban keluar. Dan pencarian ini tidak bisa diawasi oleh orang tua.

Seharusnya pertanyaan-pertanyaan yang menjurus seperti ini harus sudah dipikirkan oleh orang tua. Siap tidak siap, seorang anak akan bertanya tentang seks kepada orang tuanya. Ketidak-sigapan orang tua akan menghasilkan penjelasan yang tidak memuaskan. Sebaliknya, persiapan yang baik dengan mengenal perkembangan seorang anak, punya peluang memberi jawaban yang tepat sesuai umur si anak.

Tarbiyah Jinsiyah dalam Islam

Agama bukannya tidak mengajarkan tentang seks. Pendidikan seks (tarbiyah jinsiyah) ada dalam agama, bahkan dalam kitab suci. Dalam agama Islam, penjelasan tentang haidh sampai tentang aturan berhubungan suami istri tersedia. Jadi sebenarnya agama tidak menutup mata terhadap pendidikan seks.

Karena agama membawa keselamatan, maka tentu saja pendidikan seks yang baik adalah pendidikan seks yang menyelamatkan anak dari kerusakan moral. Dan itu ada pada pendidikan seks yang didasarkan dari agama.

Pendidikan seks pertama kali adalah soal bersuci dari najis. Di sini Islam mengajarkan kepada umatnya untuk membersihkan alat kelamin setiap kali habis membuang hajat. Tentu saja hal ini ada hikmahnya. Penjelasan yang tepat dibutuhkan sesuai dengan perkembangan dan kemampuan nalar si anak.

Kemudian, saat anak memasuki usia akil baligh, ia berhak mendapatkan pengajaran tentang kewajiban-kewajibannya di usianya. Tentu saja ia tidak lagi diajarkan berwudhu’ kalau mau sholat, bahkan ia harus diajarkan untuk mandi wajib apabila mimpi atau setelah haidh. Selain itu, harus dijelaskan pula mengapa ia mendapatkan mimpi basah dan mengapa seorang anak wanita mengalami haidh.

Di usia yang sangat rentan ini, pendidikan seks yang diperlukan bukan cuma pengenalan terhadap alat reproduksinya, tapi juga bagaimana menahan hasrat seksualnya. Ini sangat perlu. Sampai si anak memasuki perkawinan.

Setelah masa perkawinan pun si anak tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kalau orang tua sudah menjadi tempat yang teduh untuk bertanya soal seks, setelah pernikahan si anak tidak perlu jauh-jauh mengadukan permasalahan ranjangnya. Dengan basis agama, jawaban-jawaban untuk anak akan tersedia.

Alhamdulillah, Tuhan telah menyediakan aturan-aturan yang mencukupi dalam masalah ini. Permasalahan ini melekat dalam kehidupan kita, bahkan masalah utama karena masalah ini berperan dalam perkembang-biakan manusia. Jadilah orang tua yang selalu sigap memberikan penjelasan yang memuaskan bagi anak, dengan mendasarkan jawaban kepada agama. Jangan sampai kita malah mempersilakan anak untuk berbuat sesuka hatinya dalam menyalurkan syahwatnya. Na’udzubillahi min dzalik.

——-

(1) http://www.indosiar.com/gossip/52254/sidang-sarah-dan-dicky-iskandar-dinata

(2) http://news.okezone.com/read/2010/12/06/338/400440/abg-impikan-ke-belanda-demi-seks-bebas


TAGS


-

Author

Follow Me